Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, saat ini program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menjadi topik hangat perbincangan di kalangan masyarakat.
Bahkan, beberapa hari yang lalu, program MBG juga sempat viral dan menjadi trending topik di sejumlah platform sosial media Tanah Air.
Viralnya program MBG tersebut dipicu oleh banyak hal, yakni seperti isu kasus korupsi yang terjadi di lini internal Badan Gizi Nasional (BGN) melalui program MBG, kasus kercaunan massal, dan lemahnya tata kelola mitra dengan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Banyak masyarakat yang kecewa dengan program MBG, dan sebagian besar masyarakat menyebutkan bahwa program MBG adalah ladang basah (korupsi) untuk para oknum yang tidak bertanggung jawab.
Jika dilihat dari data yang ada, maka dijelaskan bahwa saat ini kerugian negara akibat korupsi program MBG telah mencapai Rp 10,5 Triliun/Tahun.
Banyak masyarakat yang menyayangkan hal tersebut, padahal pada dasarnya program MBG adalah program yang sangat mulia dan sangat membantu masyarakat kalangan menengah kebawah.
Sejumlah pakar ahli juga mengklaim bahwa program MBG adalah program investasi masa depan yang keberlanjutan dalam sektor pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berkualitas.
Karena banyakya kasus yang terjadi di lapangan, maka saat ini pihak BGN telah berkomitmen untuk membenahi tata kelola dari hulu ke hilir.
Pihak BGN juga berjanji akan memberantas rantai pasok korupsi yang ada di sektor pemerintahan melalui program MBG, baik dalam pihak internal maupun mitra.
Salah satu langkah dan strategi yang dilakukan pihak BGN untuk memperbaiki tata kelola saat ini ialah dengan memperketat lagi Penerima Manfaat (PM).
Program MBG memang ditujukan kepada seluruh pelajar di Indonesia, tetapi pada realitanya, tidak seluruh pelajar membutuhkan program MBG, terlebih lagi mereka para pelajar yang bersekolah di swasta elit.
Menurut pihak BGN, para pejalar yang sekolah di swasta elit adalah orang dengan golongan mampu bahkan bisa disebut kaya.
Oleh karena itu, saat ini pihak BGN sedang menyisir dan memilah-milah tentang mana saja sekolah yang tidak memerlukan program MBG.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan, strategi penyisiran penerima manfaat bertujuan untuk penataan ulang atau refocusing agar program MBG lebih tepat sasaran.
Sudaryono menjelaskan, pihak BGN telah mengundang dan menggelar forum diskusi kepada para sekolah swasta elit di sejumlah daerah di Indonesia.
Sudaryono mengaku bahwa saat ini memang terdapat sejumlah sekolah swasta elit yang biayanya cukup tinggi dan hampir seluruh pelajarnya tergolong mampu dan menengah keatas.
Disisi lain, Sudaryono juga menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa menjelaskan kepada publik tentang sekolah elit mana saja yang tidak akan mendapatkan MBG lagi, karena hal tersebut sangat krusial dan perlu dikomunikasikan dengan pihak sekolah yang bersangkutan.
Kerja Sama Menkes
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316561/original/079250100_1785945500-IMG_20260805_193900_073.jpg)
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, saat ini pihaknya telah menjalin hubungan kerja sama dengan pihak Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.
Kerja sama tersebut harus dilakukan guna memastikan bahwa makanan yang disajikan dalam program MBG memang benar-benar layak dikonsumsi, bermutu, berkualitas tinggi, dan bergizi.
Sudaryono mengaku bahwa pihaknya lebih ingin mendapatkan banyak input atau masukan dari tim Menkes tentang program MBG.
Sudaryono menjelaskan, saat ini pihaknya telah menerima banyak sekali masukan dari sejumlah pihak terkait, seperti pemorsian, 3T, keamanan agar tidak keracunan seperti apa, kemudian dari mulai bagaimana pelibatan ahli gizi, bagaimana pelibatan kolaborasi dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dan lain-lain.
Disisi lain, Sudaryono juga mengaku bahwa dirinya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional sangat membuka diri untuk bisa mendapatkan inputan dari siapa pun, ahli termasuk juga saya rencana ada beberapa chef, ya kemudian ada juga industri-industri catering lah misalnya gitu, bagaimana kita ingin banyak dapat masukan sehingga kita bisa melakukan perbaikan-perbaikan yang memang kita perlukan ke depannya.
